
Islam memerintahkan berobat sebagai bentuk ikhtiar, sementara hati tetap bersandar kepada Allah sebagai Yang Maha Menyembuhkan.
Sebagian orang mengira bahwa berobat ke dokter mengurangi tawakal kepada Allah. Padahal Rasulullah ﷺ sendiri memerintahkan umatnya untuk berobat. Ikhtiar medis dan tawakal justru berjalan beriringan.
Setiap penyakit ada obatnya
“Allah tidak menurunkan suatu penyakit melainkan Dia juga menurunkan obatnya.” (HR. Al-Bukhari)
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabat:
“Berobatlah, wahai hamba-hamba Allah, karena Allah tidak meletakkan suatu penyakit melainkan meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu ketuaan.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani)
Yang menyembuhkan adalah Allah
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu‘ara: 80)
Dokter, perawat, dan obat adalah sebab yang Allah ciptakan. Yang menyembuhkan tetaplah Allah. Inilah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal: tangan berusaha, hati bersandar kepada Allah.
Kesehatan adalah nikmat yang sering dilalaikan
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)
Menjaga kesehatan dengan makan yang baik, istirahat cukup, dan memeriksakan diri sejak dini termasuk mensyukuri nikmat Allah.
Sikap seorang muslim saat berobat
- Pilih pengobatan yang halal dan terbukti. Hindari praktik yang mengandung kesyirikan, seperti jimat atau perdukunan.
- Ikuti arahan dokter dengan amanah: minum obat sesuai aturan dan kontrol tepat waktu.
- Iringi dengan doa dan ruqyah syar‘iyyah, karena Al-Qur’an adalah penyembuh bagi hati dan petunjuk bagi kehidupan.
- Jangan berputus asa bila kesembuhan belum datang. Kesabaran dalam proses pengobatan juga berpahala.
- Bersyukur ketika sembuh, dan gunakan kesehatan untuk ketaatan.
Teladan dari Ibnu Sina
Masjid ini mengambil nama Ibnu Sina, ilmuwan muslim yang karyanya di bidang kedokteran menjadi rujukan selama berabad-abad. Namanya menjadi pengingat bahwa menuntut ilmu kesehatan dan mengamalkannya untuk menolong sesama adalah bagian dari ibadah.
Tulisan ini adalah panduan keagamaan, bukan nasihat medis. Ikuti selalu arahan dokter dan tenaga kesehatan yang merawat. Untuk pertanyaan fikih, silakan berkonsultasi dengan ustadz pembina melalui pengurus masjid.